Setahun yng lalu ayahku menderita paru² dan hernia dan di operasi, Alhamdulillah dengan izin Allah ayahku sembuh ditahun 2019, satu tahun berlalu ayahku menderita sakit, beli obat di klinik dan apotek tidak ada yang manjur, "obatnya tidak bereaksi apa²" katanya. Dipuskesmas Ayahku dites dahak untuk diperiksa tidak langsung jadi menunggu hari Selasa untuk mendapatkan hasilnya. Hari Selasa ibuku yang mengambil hasil tes dahak Dipuskesmas karena aku ada urusan di kampus. "Bapak harus dirawat di RS provinsi, karena disini peralatan nya terbatas" kata dokter yang memeriksa. Tapi dok, saya gapunya uang untuk membayar biaya perawatan nya". Kata Ibuku menangis. "Gapapa Bu pake SKTM aja pasti gratis". Jawab dokter.
"Rujukan dari dokter, Ayahmu harus di rawat di RS provinsi". Kata ibuku.
Iya Bu nnti besok (Rabu) saya anter pake mobil Kang Suhel tapi yang nyetirin anak buahnya yaitu Eli.
Rabu aku, ayahku, adikku dan Eli aku berangkat dari rumah jam 9 menggunakan mobil. Tiba di RS jam 10. Aku belum ada pengalaman mengurus pendaftaran rumah sakit. Aku mencoba memberanikan diri. Aku bertanya kepada security RS. Jam 10:30 aku mendaftar pendaftaran tapi rintangan dan halangan selalu ada. Surat rujukan dari puskesmas tidak ada stempel dokternya. Dan itu membuatku bingung, aku menghubungi sepupuku untuk datang ke puskesmas meminta stempel, sampai akhirnya aku mendapatkan stempel dan diprint ditempat terdekat. Akhirnya aku bisa mendaftar tetapi harus mengantri loket untuk ke ruang poli paru. Disamping itu ayahku yang kondisinya makin memburuk duduk dikursi roda didorong oleh adikku. Sementara Eli berada di luar RS. Jam 11:3 aku di poli paru memberi surat rujukan dari loket pertama. Ayahku langsung diperiksa dan disuru untuk tes lab dan Rontgen. Aku bergegas langsung ke lab Rontgen karena waktu menunjukkan pukul 12:00 jadi dipending sampai jam 13:00 karena perawat istirahat. Aku ga tega melihat bapaku yang semakin terpuruk tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa ðŸ˜
Jam 13:00 tiba, di tes darah tidak menunggu waktu lama langsung ke lab Rontgen, dokter itu bilang langsung saja daftar ke rawat inap. Tanpa pikir panjang aku langsung menunggu di dftar antrian rawat inap. Tetapi, aku disuru untuk ke poli paru terlebih dahulu untuk mendapatkan rekomendasi dari dokter paru² apakah perlu di rawat atau tidak. Lumayan membutuhkan waktu lama tetapi jam sudah menunjukkan pukul 14:00, poli paru nya tutup 😠aku frustasi karena aku tidak bisa membantu ayahku mendapat perawatan. Aku menghubungi perawat kenalan kang suhel, Pa Ade namanya. Aku menghubungi pak Ade, tapi itu tidak bisa membantu. Lalu aku, ayahku,adikku dan Eli pulang.ðŸ˜
Continue..